Opini

Guru Tua : Pejuang Pendidikan, Penegak Nasionalisme, dan Pahlawan Sejati

×

Guru Tua : Pejuang Pendidikan, Penegak Nasionalisme, dan Pahlawan Sejati

Sebarkan artikel ini
Guru Tua (Foto : Istimewa)
Penulis : Mansur Martam, Lc., M.Sy

Sejarah telah mencatat bagaimana Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufri, atau yang akrab dikenal sebagai Guru Tua, mengabdikan hidupnya untuk perjuangan pendidikan, sosial, dan dakwah sejak mendirikan Alkhairaat pada tahun 1930. Bukan hanya mencerdaskan bangsa, tetapi perjuangan beliau juga menjadi bagian dari perlawanan terhadap kolonialisme dan upaya membangun kesadaran nasionalisme di Indonesia Timur.

Melawan Kolonialisme dengan Pendidikan

Pemerintah Hindia Belanda sejak awal mencurigai gerakan Guru Tua. Alkhairaat yang beliau dirikan bukan hanya lembaga pendidikan biasa, tetapi menjadi pusat pergerakan yang membentuk generasi sadar akan hak dan martabat bangsanya. Bukti nyata perlawanan ini tampak pada tahun 1933, ketika Belanda mengeluarkan kebijakan pajak sekolah untuk murid-murid Alkhairaat. Namun, ratusan siswa langsung melakukan demonstrasi ke kantor pajak hingga akhirnya Belanda membatalkan keputusan tersebut karena takut terjadi pemberontakan yang lebih besar.

Ketegasan sikap Guru Tua dan para santrinya membuat Belanda semakin khawatir. Pada tahun 1939, kolonial mengirimkan inspektur pendidikan untuk mengawasi kurikulum Alkhairaat. Hasilnya? Pengawasan semakin ketat, sebab banyak lulusan Alkhairaat bergabung dengan Syarikat Islam, organisasi yang dikenal menuntut kemerdekaan Indonesia. Puncaknya, beberapa murid Guru Tua ditangkap karena aktif dalam perlawanan terhadap penjajah.

Membangkang Perintah Jepang, Teruskan Pendidikan Secara Sembunyi

Ketika Jepang menduduki Indonesia pada tahun 1942, mereka memerintahkan penutupan Alkhairaat selama tiga setengah tahun. Namun, apakah Guru Tua menyerah? Tidak. Ia justru melanjutkan pendidikan secara rahasia, mengajar murid-muridnya di rumah pribadi dengan penerangan pelita pada malam hari. Inilah bukti bahwa Guru Tua bukan hanya seorang pendidik, tetapi seorang pejuang yang tidak tunduk pada tirani.

Melawan NICA dan Gerombolan Separatis

Setelah proklamasi kemerdekaan pada tahun 1945, perjuangan Guru Tua dan para muridnya tidak berhenti. Daerah Sulawesi Tengah masih dikuasai oleh tentara NICA, dan banyak tokoh Alkhairaat yang terlibat dalam perlawanan bawah tanah untuk melawan upaya penjajahan kembali oleh Belanda.

Tak hanya itu, pada tahun 1950, ketika gerombolan Kahar Muzakar melakukan pemberontakan di Sulawesi, Guru Tua dengan tegas menentang gerakan separatis tersebut. Pada 6 Mei 1950, Alkhairaat mengeluarkan maklumat resmi yang menyatakan dukungan penuh kepada pemerintah Republik Indonesia yang sah dan menolak segala bentuk ancaman terhadap keutuhan negara.

Guru Tua: Pahlawan yang Layak Mendapatkan Pengakuan

Jika ada yang menuduh Guru Tua sebagai pengkhianat, maka mereka sedang mengingkari sejarah. Fakta-fakta di atas menunjukkan bahwa Guru Tua adalah seorang pejuang sejati yang:

1. Melawan kebijakan kolonial yang menindas rakyat

2. Menolak tunduk pada penjajah Jepang dengan terus mengajar secara sembunyi

3. Berkontribusi dalam perlawanan terhadap NICA pasca-kemerdekaan

4. Menentang pemberontakan Kahar Muzakar yang mengancam kedaulatan NKRI

Seorang yang membaktikan hidupnya untuk bangsa dan negara, yang melahirkan ribuan generasi patriot di Indonesia Timur, layakkah beliau diragukan sebagai pahlawan? Sementara itu, ada yang hanya bisa berkoar soal Pancasila, tetapi justru menghina tokoh yang benar-benar telah membuktikan nasionalismenya dengan tindakan nyata.

Guru Tua tidak butuh pengakuan dari mereka yang buta sejarah, tetapi sebagai bangsa yang menghargai jasa para pahlawan, sudah seharusnya Indonesia memberikan penghormatan tertinggi kepadanya sebagai Pahlawan Nasional. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *