Opini

Ketika Ulama dan Pendidik Harus Dibuktikan Kesetiannya

×

Ketika Ulama dan Pendidik Harus Dibuktikan Kesetiannya

Sebarkan artikel ini
Foto : Istimewa
Penulis : Mansur Martam, Lc., M.Sy

Ah, ternyata menjadi ulama dan pendidik di negeri ini tidak cukup untuk mendapatkan penghormatan. Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufri (SIS Al-Jufri), seorang tokoh besar yang mencurahkan hidupnya untuk pendidikan dan dakwah Islam, tiba-tiba harus menjalani “sidang sejarah” oleh mereka yang menganggap diri sebagai hakim kebenaran. Alasannya? Karena darah yang mengalir di tubuhnya dianggap salah.

Ya, rupanya kontribusi seseorang dalam membangun generasi berilmu belum cukup menjadi bukti kesetiaan kepada negeri ini. Alkhairaat, lembaga pendidikan yang beliau dirikan, yang telah mencetak ribuan cendekiawan Muslim di Indonesia Timur, rupanya bukan prestasi yang bisa dipertimbangkan. Yang lebih penting adalah apakah nasab beliau cocok dengan standar kepribumian versi segelintir orang.

Dan jangan lupa, karena beliau berasal dari klan Ba’alawi, maka beliau otomatis harus berbagi “dosa” dengan segala tuduhan pengkhianatan yang entah darimana datangnya. Lupakan fakta bahwa Ba’alawi telah menyebarkan Islam ke Nusantara dan banyak di antara mereka berjuang dalam perlawanan kolonial. Karena tentu saja, lebih mudah menghakimi berdasarkan garis keturunan daripada membaca sejarah dengan objektif.

Lebih ironis lagi, alih-alih membantah pengusulan beliau sebagai Pahlawan Nasional dengan argumen akademik yang solid, cara termudah yang dipilih adalah menghina. Sebuah metode debat yang sudah pasti sangat ilmiah dan mendalam! Karena tentu saja, tidak ada cara yang lebih baik untuk menunjukkan superioritas intelektual selain dengan menyebut orang lain dengan nama hewan.

Di sisi lain, lucu juga melihat bagaimana mereka yang mengutuk penghinaan terhadap figur-figur tertentu, kini begitu bersemangat untuk melakukannya kepada orang lain. Standar ganda memang seni tersendiri dalam dunia perdebatan.

Jadi, mungkin kita harus merombak seluruh sejarah. Jangan nilai orang dari perjuangannya, dari ilmunya, atau dari kontribusinya kepada masyarakat. Nilai mereka dari silsilahnya, dari darahnya, dari hal-hal yang tidak pernah mereka pilih sejak lahir. Dan tentu saja, pastikan mereka sesuai dengan standar kepribumian yang baru saja ditemukan ini.

Selamat datang di era baru! Era di mana jasa dan pengabdian bisa dikalahkan oleh propaganda dan keturunan. Semoga keadilan tidak ikut mati dalam prosesnya.

Kepada saudara-saudaraku Abnaulkhairaat, janganlah kita terprovokasi oleh narasi-narasi yang tidak berdasar ini. Kita diajarkan oleh Guru Tua untuk mengedepankan ilmu, akhlak, dan keikhlasan dalam berjuang. Jangan biarkan fitnah dan kebencian mengalihkan kita dari tugas utama, yaitu melanjutkan perjuangan beliau dalam membangun umat yang berilmu dan berakhlak. Tetaplah bersikap tenang, bijak, dan terus berkontribusi bagi negeri ini dengan karya nyata, sebagaimana yang diajarkan oleh pendiri Alkhairaat. Kebenaran akan selalu menemukan jalannya. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *