BoalemoRagam

Miris, Gaji Tukang Sapu di Boalemo Disunat, Untuk Apa?

×

Miris, Gaji Tukang Sapu di Boalemo Disunat, Untuk Apa?

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi tukang sapu di Boalemo. (Kawaltuntas)

Kawaltuntas.id – Pantas saja pengelolaan sampah di Pusat Ibu Kota Boalemo, Kecamatan Tilamuta, tak semaksimal seperti biasanya. Usut punya usut, gaji para tukang sapu di Daerah ini diduga disunat oleh pengambil kebijakan. Hal ini pun mengundang banyak tanya.

Informasi dihimpun, gaji yang dipotong sebesar 65 persen. Padahal honor yang diterima tak seberapa. Di satu sisi, para pekerja dipaksa oleh keadaan untuk tetap bekerja memenuhi kebutuhan hidup, di samping banyaknya sampah yang harus dimobilisasi ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah.

Catatan media ini, jumlah sampah yang dihasilkan tiap hari di Kecamatan Tilamuta saja, di atas 20 ton terdiri dari sampah organik dan non organik.

Sementara fasilitas yang dioperasikan hanya mampu mengakomodir 5 ton sampah. Artinya, ada 15 ton sampah tiap hari yang terbiar. Belum lagi satu-satunya TPA di Desa Polohungo, Kecamatan Dulupi, sudah penuh.

Pantauan media ini, tumpukan sampah di Tilamuta tersebar di mana-mana. Ada yang menyelimuti sungai, kawasan Perumnas Piloliyanga, bahkan yang menutupi badan jalan, kerap terlihat di kawasan Pasar Minggu Tilamuta.

Inilah sederet soal terkait sampah di Boalemo kekinian yang notabene dapat mencemari lingkungan dan mengancam kesehatan makhluk hidup. Padahal Daerah ini pada umumnya Gorontalo dikenal sebagai Daerah bersih. Lantas, apakah permasalahan ini hanya dibiarkan begitu saja?

Terkait pemotongan gaji tukang sapu tersebut, belum ada penjelasan dari Pemkab Boalemo. Dikonfirmasi melalui telpon, Kepala Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Boalemo, Taufik Kumali, belum merespon panggilan awak media. Terinformasi, ia sedang perjalanan dinas ke luar daerah.

Sementara itu, Kadis Perhubungan dan Lingkungan Hidup Kabupaten Boalemo, Roswita Manto, tak menampik perihal masalah yang ada. Menurutnya, anggaran yang terbatas, menjadi pemicu utamanya. Ia sendiri mengaku tak tega menekan para pekerja yang hanya menerima gaji seadanya.

“Sebenarnya sama dengan meludah ke atas saya ini, tapi saya harus berkata yang sejujurnya, bahwa benar gaji tukang sapu saat ini tidak seperti kemarin-kemarin,” ungkapnya dengan nada terpaksa, ketika dikonfirmasi pada Selasa, (07/11/2023).

Disinggung mau dikemanakan selisih gaji tersebut, mantan Kadis Pariwisata Boalemo ini belum bisa memberikan keterangan lebih. Kendati begitu ia membenarkan gaji yang diperoleh para tukang sapu saat ini tinggal 35 persen.

“Jumlah tukang sapu itu ada 42 orang, pengangkut sampah 12 orang, sopir 3, operator alat berat 1, PJU 5 dan pemangkas itu sebanyak 4 orang. Saat ini mereka tinggal menerima gaji 35 persen,” ungkapnya.

Dikatakan Roswita, gaji yang sebelumnya diterima sebanyak Rp 1,4 jutaan. Namun terkini hanya dibayarkan sekitar Rp 400 ribu. Kebijakan ini menurutnya, sejak APBD Perubahan 2023 disetujui. Ia sendiri menyimpulkan jika gaji yang diberikan tersebut tidak mampu menopang kebutuhan hidup para pekerja.

“Jadi, saya ini serba salah. Bagaimana mungkin saya menekan mereka untuk bekerja, sedangkan hak mereka belum bisa dipenuhi. Ini saja mereka belum menerima gaji bulan ini. Kondisi ini sampai Desember 2023,” ujarnya. (***)

 

Penulis : Abdul Majid Rahman

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *