Kawaltuntas.id – Dalam rangka memperingati Hari Bahayangkara ke 77, Polresta Gorontalo Kota, menggelar kegiatan revitalisasi situs budaya dan agama di tempat ziarah Masjid Hunto Sultan Amai, Selasa, (20/06/2023).
Masjid Hunto terletak di Kelurahan Biawu, Kecamatan Kota Selatan, Kota Gorontalo. Masjid ini dibangun pada tahun 1495. Menurut sejarah, saat itu Sultan Amai hendak meminang putri Raja Palasa (Sulteng) yang muslim. Ia diberi syarat untuk masuk Islam terlebih dahulu. Lalu, untuk lebih memantapkan keislamannya, sang Sultan membangun sebuah masjid.
Masjid tersebut dipergunakan sebagai mahar pernikahan antara Sultan Amai dan putri Raja Palasa. Selain menjadi simbol hadiah pernikahan raja, banyak kegiatan religi yang dilakukan oleh masyarakat Gorontalo di Masjid itu.
Masjid Hunto menjadi basis perkembangan agama Islam di Gorontalo. Sultan Amai bahkan pernah mengundang ulama terkemuka dari Arab Saudi, bernama Syekh Syarif Abdul Aziz, untuk lebih mengembangkan penyebaran Islam di Gorontalo. Saat wafat, ia kemudian dimakamkan di area masjid ini.
Kini, kondisi bangunan tua ini pun telah banyak mengalami perubahan karena dilakukan renovasi. Namun, beberapa bentuk keasliannya masih tetap terjaga. Seperti bangunan utama masjid yang berukuran 12 x 12 meter yang tetap dipertahankan bentuknya.
Sedangkan di bagian depan dan samping dibangun ruangan-ruangan tambahan. Di depannya kini ada ruangan tambahan seluas 60 meter persegi sedangkan di sebelah utara ruang utama juga dibangun ruangan tambahan dengan ukuran 8 x 12 meter.
Selain bangunan yang telah berusia ratusan tahun lamanya, di dalamnya juga banyak benda peninggalan masa lampau. Bahkan, ada yang telah berusia 600 tahun. Benda-benda tersebut, antara lain, mimbar tempat khotbah, tiang-tiang ruang utama masjid, beduk yang terbuat dari kayu randu, Alquran dengan tulisan tangan, buku Me’raji tulisan tangan dalam bahasa Gorontalo dengan huruf Arab Melayu, serta berbagai ornamen kaligrafi tulisan Arab.
Pada masjid ini juga terdapat sebuah sumur tua yang letaknya berada di sisi kiri bangunan. Sebagaimana masjid tua, keberadaan sumur, untuk memenuhi kebutuhan air bagi yang ingin beribadah selalu menyertainya. Konon, sumur tersebut dibangun bersamaan dengan dibangunnya masjid Hunto.
Polresta Gorontalo Kota sendiri, melakukan revitalisasi area sumur itu dengan tetap memperhatikan ciri khasnya. Dibuatkan dinding dan kaca di sekitar sumur, guna menjaga kearifan dan keaslian sumur.
Kapolresta Gorontalo Kota, Kombespol Dr. Ade Permana, S.I.K.,M.H, mengatakan, kegiatan revitalisasi tersebut, tak lain menindaklanjuti instruksi Kapolri untuk melestarikan cagar budaya di Wilayah masing-masing.
“Kami memilih Masjid Hunto Sultan Amai ini, karena merupakan cagar budaya. Penataannya harus dilakukan secara hati-hati, agar nilai kulturalnya tetap terjaga,” tutur Kombespol Ade.
Ketua Takmirul Masjid Sultan Amai (Hunto) Drs. Hi. Syamsuri Kaluku, MM, mengatakan, masjid Hunto sudah pernah direnovasi. Namun beberapa titik masih terjaga keaslianya, termasuk sumur tua dan mimbar khutbah.
Ia mengapresiasi dan berterima kasih kepada jajaran Polresta Gorontalo Kota, yang telah memilih melakukan kegiatan merevitalisasi seputar sumur tua masjid Hunto, tanpa mengubah bentuk aslinya.
“Sumur ini dibuat menggunakan batu kapur yang direkatkan dengan putih telur burung maleo, serta sumur ini memiliki diameter sekitar satu meter dengan kedalaman sekitar tujuh meter,” katanya.(***)
Editor : Abdul Majid Rahman














