Penulis : Mansur Martam, Lc., M.Sy
Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufri, atau yang dikenal sebagai Guru Tua, adalah sosok ulama dan pendidik yang memiliki peran besar dalam perjuangan bangsa Indonesia. Meski jasanya terhadap negeri ini begitu besar, tak sedikit suara sumbang yang mencoba meragukan nasionalismenya. Namun, bukti sejarah dan kontribusi beliau menunjukkan bahwa tuduhan-tuduhan tersebut tidak berdasar.
Bukti Nasionalisme Guru Tua
1. Peran dalam Pendidikan
Guru Tua mendirikan Alkhairaat di Palu pada 1930 sebagai pusat pendidikan yang membentuk generasi muda Indonesia dengan nilai-nilai kebangsaan. Institusi ini bukan sekadar lembaga keagamaan, melainkan juga wadah pembentukan karakter pemuda yang cinta tanah air.
2. Dukungan terhadap Kemerdekaan Indonesia
Ketika Proklamasi Kemerdekaan RI dikumandangkan pada 17 Agustus 1945, Guru Tua menuliskan sebuah syair yang penuh semangat nasionalisme. Dalam syairnya, beliau mengagungkan merah putih sebagai simbol kemuliaan, memuji perjuangan Soekarno, serta mendorong rakyat untuk mendukung para pemimpin negara demi kejayaan bangsa.
3. Menentang Penjajahan dan Kolonialisme
Guru Tua aktif menolak segala bentuk penjajahan. Ia berupaya mencerdaskan rakyat agar mereka sadar akan hak dan martabatnya sebagai bangsa merdeka. Sikapnya ini menunjukkan bahwa ia adalah seorang pejuang yang berdedikasi untuk Indonesia.
Klarifikasi Status Kewarganegaraan
Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum (Ditjen AHU) Kemenkumham RI telah menyelesaikan proses verifikasi dan menyatakan bahwa Guru Tua telah memenuhi seluruh persyaratan untuk menjadi WNI. Pengesahan sebagai WNI tersebut tertuang dalam surat nomor AHU.4.AH.10.01-300 tanggal 18 Juli 2024, setelah memenuhi persyaratan dan kelengkapan dokumen, di antaranya surat rekomendasi dari Gubernur Sulawesi Tengah, Walikota Palu, Surat Pernyataan Ahli Waris, hingga Riwayat Hidup.
Dengan pengakuan status kewarganegaraan tersebut, perjuangan masyarakat Kota Palu untuk mendapatkan Anugerah Pahlawan Nasional bagi Guru Tua semakin dekat.
Menanggapi Tuduhan Tidak Berdasar
Sejumlah pihak menuduh bahwa Guru Tua bukanlah bagian dari bangsa ini. Ada pula yang mengaitkan garis keturunan Ba’alawi dengan penghianatan terhadap negeri. Namun, tuduhan tersebut tidak memiliki dasar sejarah yang kuat dan justru bertentangan dengan fakta-fakta yang ada.
1. Guru Tua Adalah Bagian dari Perjuangan Bangsa
Sepanjang hidupnya, Guru Tua tidak pernah menunjukkan sikap anti-Indonesia. Sebaliknya, ia berkontribusi besar dalam membangun generasi yang berpendidikan dan cinta tanah air.
2. Garis Keturunan Tidak Menentukan Kesetiaan
Tuduhan bahwa seluruh keturunan Ba’alawi adalah penghianat tidak hanya berlebihan tetapi juga tidak ilmiah. Banyak tokoh keturunan Arab yang berjuang untuk kemerdekaan Indonesia, dan Guru Tua adalah salah satunya.
3. Fakta Sejarah Berbicara
Jika kita merujuk pada sejarah, tidak ada bukti bahwa Guru Tua memiliki keterlibatan dalam tindakan yang merugikan bangsa. Sebaliknya, ia dihormati oleh masyarakat dan memiliki pengaruh besar dalam pendidikan di Indonesia.
Pesan untuk Abnaulkhairaat
Bagi para murid dan penerus perjuangan Guru Tua, jangan mudah terprovokasi oleh narasi yang memutarbalikkan fakta sejarah. Tetaplah menjunjung tinggi nilai-nilai perjuangan dan pendidikan yang telah diwariskan oleh beliau. Kebenaran akan selalu menemukan jalannya, dan yang terpenting adalah meneruskan perjuangan beliau dalam membangun bangsa yang lebih baik.
Dengan fakta-fakta ini, tidak ada alasan untuk meragukan bahwa Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufri adalah seorang nasionalis sejati. Perjuangannya dalam pendidikan dan kebangsaan merupakan bukti nyata bahwa beliau layak mendapat tempat sebagai pahlawan nasional Indonesia. (***)














