Kawaltuntas.id – Dokter spesialis anak konsultan kardiologi RSUD dr. Clara Gobel Boalemo, dr. Indah Musdalifah, Sp.A, Subsp.Kardio.(K), menjelaskan sejumlah jenis penyakit jantung bawaan (PJB) yang paling sering ditemukan pada anak serta pentingnya deteksi dini untuk mencegah komplikasi.
Menurut dr. Indah, PJB merupakan kelainan struktur jantung yang sudah terjadi sejak bayi lahir dan dapat memengaruhi aliran darah di dalam jantung maupun ke seluruh tubuh.
“Penyakit jantung bawaan adalah kelainan struktur jantung yang sudah ada sejak lahir dan dapat mengganggu aliran darah sehingga perlu dikenali sejak dini,” katanya.
Ia menjelaskan, Pekan ini tanggal 7-14 Februari diperingati sebagai pekan kewaspadaan Penyakit Jantung Bawaan (PJB). Satu dari 100 bayi yang lahir menderita PJB, sehingga kita perlu mengenal tanda dan gejalanya.
Salah satu jenis yang kerap ditemukan adalah atrial septal defect (ASD), yakni adanya lubang pada sekat antara dua serambi jantung.
Kondisi ini menyebabkan aliran darah dari serambi kiri mengalir ke serambi kanan sehingga dalam jangka panjang dapat memicu pembesaran jantung dan peningkatan aliran darah ke paru-paru.
Selain itu, kata Dia, terdapat ventricular septal defect (VSD), yaitu lubang pada sekat antara dua bilik jantung. Besar kecilnya lubang sangat memengaruhi gejala yang muncul.
“Pada lubang kecil, anak bisa tidak bergejala dan bahkan dapat menutup spontan. Namun, bila lubangnya besar, kondisi ini dapat menyebabkan gagal jantung dan gangguan tumbuh kembang,” ujarnya.
Jenis lainnya adalah patent ductus arteriosus (PDA), yaitu kondisi ketika pembuluh darah yang seharusnya menutup setelah lahir tetap terbuka. Hal ini menyebabkan peningkatan aliran darah ke paru-paru yang dapat menimbulkan sesak napas pada bayi serta infeksi paru berulang.
Adapun jenis PJB kompleks yang cukup berat adalah tetralogy of fallot, yang dikenal sebagai penyakit jantung bawaan biru. Kelainan ini merupakan kombinasi empat gangguan, yakni VSD, penyempitan pembuluh darah paru, pergeseran posisi aorta, dan penebalan otot bilik kanan.
“Kombinasi kelainan tersebut menyebabkan darah yang mengalir ke seluruh tubuh miskin oksigen sehingga anak tampak kebiruan atau mengalami sianosis,” kata dr. Indah.
Ia menambahkan, penanganan PJB tidak selalu sama pada setiap pasien. Keputusan terapi ditentukan berdasarkan jenis kelainan, ukuran lubang, usia anak, kondisi klinis, serta dampaknya terhadap fungsi jantung dan paru-paru.
“Beberapa PJB sederhana seperti ASD, VSD, dan PDA dapat menutup spontan atau ditangani melalui kateterisasi tanpa pembedahan. Namun, pada kelainan kompleks seperti tetralogy of fallot, biasanya diperlukan tindakan operasi secara bertahap,” ujarnya.
dr. Indah menekankan, deteksi dini dan pemantauan rutin sangat penting agar anak dengan penyakit jantung bawaan dapat memperoleh penanganan optimal.
“Dengan deteksi dini dan pemahaman yang baik, anak dengan penyakit jantung bawaan tetap memiliki peluang tumbuh dan berkembang secara optimal,” katanya. (**)














