Kawaltuntas.id – Bermula dari keterbatasan, SMPN 12 Wonosari kini jadi pelopor sekolah digital di Boalemo. Di baliknya, ada sosok kepala sekolah yang berani bermimpi besar.
Siapa sangka, sebuah sekolah di pelosok Kabupaten Boalemo, Gorontalo, menjadi pelopor lahirnya program smart school yang kini membanggakan daerah. SMP Negeri 12 Wonosari, yang dulunya berjuang dengan keterbatasan fasilitas dan sulitnya jaringan internet, kini dikenal sebagai salah satu sekolah paling inovatif di Indonesia.
Transformasi besar itu tak lepas dari peran kepala sekolahnya, Ahman Sarman. Di bawah kepemimpinannya, SMPN 12 Wonosari membuktikan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berinovasi.
“Kami sangat kewalahan karena tidak memiliki jaringan bersengsaraan. Tapi sebagai sekolah di daerah terkecil, kami yakin kreativitas bisa lahir dari ide-ide kami,” ujar Ahman mengenang perjalanan mereka.
Perubahan mulai terasa sejak 2018 ketika Telkom membawa program DigiSchool ke sekolah tersebut. Salah satu langkah awal yang diambil adalah pelaksanaan ujian semester berbasis Android. Inovasi sederhana ini membuka jalan bagi lahirnya berbagai program digital lainnya.
Tak hanya itu, sekolah ini juga meluncurkan program unggulan Literasi Tuntas Baca Al-Qur’an berbasis Android – program unik yang belum pernah diterapkan sekolah lain. Bahkan untuk urusan organisasi siswa, pemilihan ketua OSIS dilakukan secara digital menggunakan fitur USB-A dari DigiSchool.
Berkat konsistensinya dalam berinovasi, Ahman Sarman meraih penghargaan sebagai Kepala Sekolah Terbaik tingkat SMP se-Indonesia pada 2019.
Inovasi dari sekolah pelosok ini kini menjadi inspirasi. Pemerintah Kabupaten Boalemo kemudian mengadopsi program smart school secara resmi melalui kebijakan pemerintahan Paham. Dari satu sekolah di desa kecil, lahirlah perubahan besar untuk pendidikan di Boalemo.
Ahman Sarman, Dari Tikong ke Dunia Literasi Nasional
Tak hanya dikenal sebagai kepala sekolah inovatif, Ahman Sarman juga aktif menulis. Pria kelahiran Tikong, Kabupaten Pulau Taliabu, Maluku Utara, 16 Juli 1985 ini, telah menerbitkan berbagai karya mulai dari antologi cerpen hingga buku pendidikan.
Beberapa karyanya antara lain Kilometer Tiga Belas, Sampan Tak Bertuan, dan Sekolah Terpencil Berbasis Android. Tulisannya kerap muncul di media nasional. Selain itu, ia juga menjadi tutor online di Universitas Terbuka.
Dari Tikong ke Wonosari, dari pelosok Boalemo menuju panggung literasi nasional, Ahman membuktikan bahwa keterbatasan bukan halangan untuk melahirkan karya besar dan perubahan nyata. (***)
Penulis: Isham Abdina














