Kawaltuntas.id – Ketua DPRD Kabupaten Boalemo, Karyawan Eka Putra Noho, mengingatkan masyarakat agar tidak mengonsumsi minuman keras dan menjauhi narkoba saat merayakan tradisi Ketupat yang digelar usai Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah.
Imbauan itu disampaikan menjelang perayaan Ketupat yang menjadi tradisi masyarakat Gorontalo setiap 7 Syawal.
Karyawan, yang akrab disapa Eka menegaskan, momentum budaya dan keagamaan tersebut harus dirayakan dengan tertib, aman, serta tidak dicederai oleh perilaku yang merusak ketenteraman masyarakat.
“Kemenangan Idul Fitri jangan dicederai dengan perilaku yang merusak. Tradisi Ketupat harus menjadi ruang mempererat silaturahmi, bukan ajang pelanggaran,” katanya.
Politikus PDI Perjuangan itu mengatakan, masyarakat perlu menjaga suasana perayaan agar tetap kondusif.
Menurut dia, tradisi Ketupat bukan hanya bagian dari perayaan pasca-Idul Fitri, tetapi juga simbol kebersamaan dan persaudaraan yang harus dihormati bersama.
Ia menilai, peredaran dan konsumsi minuman keras, penyalahgunaan narkoba, hingga penggunaan knalpot brong berpotensi merusak makna perayaan dan mengganggu kenyamanan warga.
“Jangan ada lagi miras, narkoba, atau knalpot brong yang merusak suasana. Rayakan Ketupat dengan tertib, saling menghargai, dan menjaga kenyamanan bersama,” ujarnya.
Selain itu, Eka juga mengingatkan masyarakat agar tetap disiplin dalam berlalu lintas selama perayaan berlangsung.
Ia meminta warga tidak memarkir kendaraan sembarangan, terutama di bahu jalan, karena dapat menyebabkan kemacetan dan mengganggu kelancaran aktivitas masyarakat.
Menurut dia, menjaga keamanan dan ketertiban selama perayaan tidak hanya menjadi tanggung jawab aparat, tetapi juga kewajiban bersama seluruh elemen masyarakat.
Ia pun mengajak generasi muda di Boalemo untuk ikut berperan dalam menjaga tradisi Ketupat agar tetap berlangsung secara tertib dan berbudaya.
“Kalau kita ingin tradisi ini terus hidup dan dihormati, maka kita sendiri yang harus menjaganya. Tunjukkan bahwa masyarakat Boalemo adalah masyarakat yang beradab dan menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan,” tutur Karyawan.
Di Gorontalo, tradisi Ketupat dikenal sebagai salah satu perayaan budaya yang telah lama hidup di tengah masyarakat. Tradisi ini awalnya diperkenalkan oleh etnis Jawa Tondano dan berkembang menjadi bagian dari kehidupan sosial warga di berbagai daerah, termasuk di Boalemo.
Melalui momentum Idul Fitri dan tradisi Ketupat, Eka berharap masyarakat dapat menunjukkan kedewasaan sosial dengan menjaga sikap, ketertiban, dan rasa saling menghormati selama perayaan berlangsung. (**)














