Kawaltuntas.id – Polemik bantuan motor roda tiga bagi penyandang disabilitas di Kabupaten Sigi tahun 2023 kembali menjadi perhatian publik setelah viral di media sosial. Penyerahan simbolis bantuan yang saat itu melibatkan Anggota Komisi VIII DPR RI, Matindas J. Rumambi, kini menjadi sorotan setelah muncul berbagai perbedaan keterangan antara pihak Sentra Nipotowe Palu dan penerima bantuan, Solmin.
Dalam video kegiatan yang kembali beredar, Matindas terlihat menyerahkan secara simbolis motor roda tiga kepada Solmin. Namun setelah kegiatan selesai, motor roda tiga merek Viar berwarna merah tersebut tidak pernah dibawa pulang oleh Solmin dan akhirnya dialihkan kepada penerima lain di Kabupaten Poso.
Klarifikasi kemudian disampaikan pihak Sentra Nipotowe melalui Satriadi. Ia menjelaskan bahwa unit tersebut memang belum diserahkan secara resmi meskipun telah dilakukan serah terima simbolis.
Menurut Satriadi, saat itu muncul kebijakan peninjauan ulang terhadap hasil asesmen penerima bantuan roda tiga karena nilai bantuan dianggap cukup besar dan harus tepat sasaran. Saat itu Menteri Sosial RI dijabat oleh Tri Rismaharini.
Satriadi menyebut hasil asesmen Solmin kemudian diperlihatkan kepada staf ahli menteri saat itu, Doddi Madya Judanto. Dari hasil peninjauan tersebut, Solmin dinilai belum terlalu membutuhkan bantuan motor roda tiga dan dianggap lebih tepat menerima bantuan usaha fotografi sesuai bidang yang dijalankannya.
“Pak Solmin sudah simbolis, tapi disarankan lebih bagus kalau diajukan bantuan usaha fotografer dibanding diberikan motor,” ujar Satriadi, Rabu, 19 2026.
Ia juga mengaku pihak sentra sempat menawarkan pilihan kepada Solmin, apakah tetap ingin bantuan motor roda tiga atau bantuan usaha fotografi. Namun Solmin disebut tetap memilih motor roda tiga karena sejak awal bantuan itulah yang diproses.
Selain itu, Lewa dari pihak sentra turut menjelaskan bahwa data awal penerima sebenarnya sudah dimasukkan dan diproses sebelumnya.
Dalam keterangannya, Satriadi sempat mengatakan bahwa dari 10 unit bantuan yang diproses saat itu, tidak semuanya dicoret dan sebagian masih dipertahankan, meski lebih banyak dilakukan pergantian penerima.
Namun dalam percakapan lanjutan, Satriadi juga menyebut bahwa dari seluruh unit bantuan tersebut, hanya bantuan milik Solmin yang akhirnya dialihkan ke penerima lain. Pernyataan itu kemudian memunculkan pertanyaan baru di tengah publik karena dinilai berbeda dengan penjelasan sebelumnya.
Satriadi juga mengakui adanya kekeliruan dari pihak sentra karena tidak menjelaskan persoalan tersebut sejak awal kepada Solmin.
“Kami juga salah karena tidak menjelaskan ini dari awal ke Pak Solmin,” ungkapnya.
Bahkan Satriadi menyebut salah satu hal yang memberatkan pihak sentra dalam polemik ini adalah adanya bukti digital penyerahan simbolis yang telah tersebar di publik.
“Yang memberatkan kami ada bukti digital penyerahan simbolis,” kata Satriadi.
Ia menambahkan pihak sentra tetap akan mengupayakan bantuan lain sebagai bentuk kompensasi atas persoalan yang terjadi saat itu.
“Secepatnya kami usahakan. Begitu pimpinan ACC, kami adakan,” ujarnya.
Dalam percakapan lainnya, Satriadi juga mempertanyakan mengapa saat itu Solmin tidak langsung membawa pulang kendaraan tersebut.
“Kenapa dulu unit itu tidak langsung dibawa pulang?” tanya Satriadi kepada Solmin.
Lewa kemudian menambahkan bahwa apabila unit tersebut langsung dibawa pulang saat itu, maka kendaraan tersebut tidak mungkin lagi ditarik kembali.
“Kalau langsung dibawa pulang, sudah tidak mungkin ditarik,” ujar Lewa.
Pernyataan itu diperkuat Satriadi yang menyebut barang yang sudah diserahkan kepada masyarakat tidak boleh diambil kembali.
Satriadi juga mencontohkan salah satu penerima bantuan lain bernama Okta yang disebut langsung membawa pulang unit bantuan saat penyerahan berlangsung.
Namun pernyataan tersebut dibantah oleh Solmin. Ia mengaku saat itu sebenarnya sudah ingin membawa pulang kendaraan tersebut, namun masih ditahan oleh pihak sentra dengan alasan pengurusan administrasi belum selesai.
Solmin juga membantah pernyataan Satriadi terkait penerima lain bernama Okta yang disebut langsung membawa pulang kendaraan saat itu.
Berbagai perbedaan penjelasan tersebut kini memunculkan tanda tanya di tengah publik.
Perbedaan keterangan antara pihak Sentra Nipotowe dan penerima bantuan dinilai memperbesar sorotan terhadap mekanisme penyaluran bantuan sosial yang saat itu dilakukan secara simbolis namun berujung polemik. (*)
Penulis: Aljufri J. Rangga














